[Anime Movie] Review : Sprited Away – Best Animated Feature Japan 2002 !

12 Oct

Nama dan makanan sepertinya jadi simbol yang paling penting dalam animasi bikinan Hayao Miyazaki ini. Kunci film ini, kalau boleh saya bilang. Nyatanya, petualangan Chihiro di dunia arwah, saah satunya, tidak akan dimulai kalau kedua orang tuanya tidak dengan rakus melahap makanan yang tersedia. Dan kalau Chihiro tidak memakan buah (atau semacam itu) yang diberikan oleh Haku, dia akan menghilang selamanya dari dunia arwah.

Layaknya Alice di Wonderland, penonton pun dibawa bertualang di dunia arwah bersama Chihiro. Berbagai macam kejadian imajinatif dialami Chihiro, mulai dari perjumpaan dengan Haku, bekerja di pemandian air panas milik Yubaba, serta urusan-urusan hal-hal ganjil (atau mungkin lebih tepat disebut gaib) lainnya. Tujuan utama Chihiro jelas menyelamatkan kedua orang tuanya. Namun petualangannya berkembang lebih dalam dari itu. Spirited Awaymerupakan misi Chihiro, seorang gadis kecil manja, dalam mempertahankan dirinya. Ini adalah sebuah kisah tentang pengekangan dan pembebasan identitas.

Kata adalah saah satu esensi penting dalam petualangan Chihiro. Dia harus memilih kata yang tepat tiap-tiap kali berucap. Hal ini terang-terangan diperlihatkan ketika Chihiro meminta pekerjaan pada Yubaba. Chihiro harus pintar memilah-milih kata ketika bernegosiasi melawan Yubaba. Yubaba juga licik dan gesit untuk urusan menyimpang-nyiurkan subyek. Terlebih Lin dan Kamaji akan turut terancam kalau-kalau Chihiro keteteran memilih kata. Bagian ini mengindikasikan bahwa kata bisa menjadi senjata. Kata bisa menjadi peluru untuk mendapatkan perhatian. Seseorang bisa sukses hanya dengan mampu memilah-milih kata yang tepat, begitu juga sebaliknya.

Kata juga bagian dari identitas seseorang. Termasuk juga nama, yang juga bisa dibilang sebuah kata. Ketika Chihiro mendapatkan pekerjaan dari Yubaba, penyihir itu mencuri beberapa huruf dari nama Chihiro. Alhasil, dengan sedikit mantra, nama Chihiro diubahnya menjadi Sen. Dan karena mantra Yubaba, hampir saja Chihiro melupkan nama aslinya. Untungnya Haku mengingatkan Chihiro akan pentingnya nama aslinya. Mengingatkan akan pentingnya untuk tidak melupakan nilai-nilai pribadi. Tidak melupakan identitas sendiri.

Padahal Haku sendiri sama sekali tidak ingat dengan identitasnya yang sebenarnya. Identitasnya sudah dicuri Yubaba. Dan Haku hidup sebagai orang lain, sosok lain, identitas lain, sampai akhirnya mantra tersebut dipecahkan oleh Chihiro. Shakespeare mungkin pernah bertanya: “Apalah arti sebuah nama?” Kira-kira melaui Spirited Away Hayao Miyazaki menjawab: “Nama adalah bagian yang fundamental dari identitas.”

Identitas tidak hanya ditunjukkan oleh sebuah nama. Sikap dan prilaku juga berperan penting dalam identitas seseorang. Baik buruknya seseorang jelas sangat menentukan kualitas orang itu. Itulah yang membedakan antara protagonis dan antagonis. Pahlawan dan penjahat. Tokoh utama dan musuh utama.

Tapi Hayao Miyazaki tidak mau sekedar berhitam-putih. Spirited Away pun diberi sentuhan abu-abu. Tokoh lain selain Chihiro (yang sudah jelas protagonis) dan Yubaba (yang sudah jelas antagonis) pun dibuat abu-abu. Haku, “No-Face,” Zeniba, Lin, Kamaji, dan, bayi raksasa, semuanya memegang peran penting sebagai tokoh abu-abu. Bahkan arwah lobak raksasa yang ada di dalam lift bersama Chihiro pun abu-abu. Tokoh-tokoh tersebut mulanya digambarkan sebagai sosok jahat (malah melakukan tindakan buruk), tapi pada akhirnya merekalah yang berperan penting dalam membantu Chihiro menyelesaikan misinya.


Yang paling menarik adalah “No-Face,” si arwah kesepian. Arwah kesepian ini mulanya membantu Chihiro dengan diam-diam mengambil sabun tambahan sehingga Chihiro berhasil memberishka arwah jorok. Yang diinginkan “No-Face,” sebenarnya hanyalah teman. Namun “No-Face” mendadak berubah menjadi sosok yang mengerikan ketika ia mengenal kerakusan. Hal ini diawali ketika ia melahap salah seorang petugas rumah pemandian yang tergiur dengan kepingan emas yang dia berikan. Kemudian “No-Face” memancing petugas rumah pemandian lainnya dengan trik yang sama. Sampai akhirnya, ketika sudah mengenal rakus, “No-Face,” kehilangan identitasnya. Rakus lah kata kuncinya.

Bodohnya juga para petugas rumah pemandian yang tergiur bau emas yang ditawarkan. Jelas karena mereka rakus. Resikonya mereka dilahap oleh “No-Face.” Ketamakan itu ada resikonya sendiri. Kalau diingat-ingat, itu juga yang terjadi di awal film ketika kedua orang Chihiro dengan rakus melahap makanan yang tersedia. Makanan memang penting dan menyehatkan, kalau dimakan sesuai porsinya. Misalnya, ketika Chihiro diberi makanan oleh Haku. Tapi tidak akan enak lagi kalau dilahap berlebihan.

Bicara soal rakus, Yubaba si pemilik rumah pemandian tidak mungkin bisa lepas dari sorotan. Yubaba adalah tokoh yang paling rakus dari semua tokoh rakus yang ada di film ini. Walau begitu, Yubaba berupa paham akan peraturan. Dia membuat aturan, dia menghormati peraturan. Dia menganggap semua sosok yang ada di rumah pemandian itu penting. Yubaba bahkan menganggap semua orang mempunyai keinginan untuk menjadi penting. Dengan cara itu lah Yubaba memandang tiap-tiap identitas di bawah naungannya. Dengan begitu juga Yubaba menganggap semua orang sama rakusnya dengan dirinya (kecuali bayi raksasa yang dia amat-sangat disayangnya). Kebaikannya, Zeniba yang awalnya terlihat lebih mengerikan dari Yubaba ternyata malah ramah dan menghangatkan. Sekalipun Yubaba dan Zeniba kembar identik, keduanya ibarat air dan api. Sosok Yubaba dan Zeniba mengingatkan bahwa selalu saja ada hitam dan putih di setiap sisi. Dan itu sudah jadi identitas manusia.

Sebagai salah satu penggemar animasi-animasi Jepang (selain animasi klasik Cekoslovakia dan Rusia), terutama Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, film ini termasuk animasi yang rumit dan sederhana secara bersamaan. Bagi saya, ini salah satu mahakarya dari Hayao Miyazaki bersamaan dengan Kiki’s Delivery Service dan Princess Mononoke. Film ini bisa dinikmati secara kompleks, atau sekedar ditonton dari kaca sederhana. Ini adalah sebauh film menawan yang kemenawanannya bisa dinikmati baik dengan cara literal ataupun metaforis. Atau kalau mau sederahananya saja, Spirited Away sangat menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga. Dan pada akhir film para orang tua bisa bicara pada anak-anaknya, “Makanya kalau makan jangan rakus kalau gak mau kayak babi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: